Minggu, 26 Mei 2013

Walantaka, sebuah desa yang tak terlupakan


Taraaaaaaa, Islamologi sebuah mata kuliah pilihan yang sudah membuat saya menemukan teman-teman baru yang asik, seru, gila dan penuh tawa. Mata kuliah yang mewajibkan mahasiswa-mahasiwinya melakukan Kuliah Kerja Lapangan sebagai bentuk Ujian Akhir semester ini telah memberikan kisah tersendiri dalam salah satu ruang memori hidup ini. Alkisah mahasiwa dari bererapa jurusan yang ada di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (yang menikuti mata kuliah Islamologi) membentuk sebuah susunan kepanitiaan yang telah ditetapkan saya sebagai ketua Kuliah Kerja Lapangan kali ini. Setelah melalui minggu-minggu yang pelik, akhirnya telah diputuskan bahwa kami akan meneliti tentang Debus yang berada di propinsi Banten dengan berbagai pertimbangan yang telah disepakati bersama. Tiga kali survey lokasi telah saya bersama beberapa teman saya lakukan yang memiliki cerita berbeda-beda di setiap survey tersebut. Hingga akhirnya kami putuskan untuk menjadkan desa Walantaka sebagai wilayah penelitian Kuliah Kerja Lapangan Islamologi ini. Dalam proses perwujudan KKL (Kuliah Kerja Lapangan) yang dilakukan pada hari Jumat, 24 Mei 2013 hingga MInggu, 26 Mei 2013 ini memanglah tidak berjalan dengan mulus, berbagai masalah datang bertubi-tubi, namun dengan perasaan yang agak sedikit bernafas lega dan penasaran akhirnya kami ber-15 yang sebenarnya mahasiswa mata kuliah Islamologi adalah 16 orang (satu orang mengundurkan diri dengan alasan yang hingga saat ini masih belum saya ketahui dengan pasti) pergi menuju desa Walantaka pada hari Jumat sore sekitar pukul 4 sore yang mengaret hampir satu jam dari perjanjan sebelumnya. Walhasil perjalanan dari Depok menuju desa Walantaka menjadi 4 jam (yang pada saat survey hanya menghabiskan waktu 2 jam) karena macet. Kami berangkat mengenakan 2 buah mobil yang terdiri dari 8 orang di mobil pertama dan 7 orang di mobil kedua. Dalam perjalanan menuju desa Walantaka, kehangatan serta kebersamaan (yang tidak saya temui di dalam kelas, karena memang kami tidak mengenal satu sama lain yang berasal dari berbeda-beda program studi) mulai tercipta di dalam setap mobil, bercanda tertawa dan saling mengejek guna mengakakrabkan suasana mulai terdengar memenuhi isi mobil yang saya tumpangi, setelah saya bertanya kepada salah satu penumpang di mobil yang satunya pun ternyata sama, wajah jaim dan malu-malu sudah tidak ada lagi diantara kami. Sesampainya disana kami memang sudah merasa sangat kelaparan, hingga akhirnya tim konsumsi bersama saya mencari makanan di sekitar lokasi penginapan yang juga berada di desa Walantaka serta memebeli berbagai keperluan konsumsi yang akan dipergunakan untuk keesokan harinya. Kamipun makan bersama di tempat penginapan untuk pertama kalinya dan tetap dselingi canda tawa yang lepas diantara satu dan yang lainnya. Hingga selesai makan malampun, kami masih terus bercengkrama hingga larut malam meskipun sudah ada yang tertidur terlebih dahulu karena sangat merasa  capek. Namun sebelum itu semua kami sudah merencanakan kegiatan yang harus kami lakukan bersama kelompok-kelompok yang dibagi menjadi 5 untuk menemukan informasi-informasi baru mengenai Debus yang ada di desa Walantaka.

Walantaka, sebuah desa kecil yang terletak di Kabupaten Serang propinsi Banten adalah tempat lahirnya kesenian tradisional Banten yang sudah sangat mendunia yaitu Debus. Desa Walantaka memiliki sejuta keunikan dan keindahan. Penduduk setempat yang sangat ramah dengan pendatang adalah salah satu hal yang sangat istimewa, anak-anak yang memiliki segudang prestasi dalam hal kesenian juga menambahkan keistimewaan bagi desa Walantaka. Padepokan Surosowan adalah padepokan debus tertua di Banten. Dari padepokan inilah lahir jawara-jawara Banten yang terkenal. Sebut saja salah satunya adalah almarhum bapak Idris yang merupakan pendiri padepokan tersebut. Setelah sepeninggalannya almarhun bapak Idris, padepokan ini diurus oleh anak-anaknya yang berjumlah 9 orang. Padepokan ini adalah padepokan yang berbasaskan kekeluargaan, jadi tidak ada struktur keorganisasian yang pasti pada padepokan ini, namun yang menjadi ketua harian padepokan saat ini adalah bapak Suminta yang merupakan salah satu anak laki-laki pendiri padepokan tersebut. Selain bapak Suminta ada lagi tokoh terkenal yang juga merupakan anak-anak dari pendiri padepokan Surosowan adalah bapak H. Muchtar Idris dan ibu Bayi Khodijah. Padepokan Surosowan ini tidak diketahui dengan pasti kapan didirikannya, saat kami mencoba menanyakan sejak kapan berdirinya padepokan ini, pak H Muchtar Idris mengatakan bahwa pohon beringin besar yang berdiri kokoh di depan pelatarn padepokan Surosowan ini sudah ada sebelum padepokan tersebut didirikan, itu berarti usia padepokan tersebut berkisar 100 tahunan lebih. Padepokan Surosowan tidak hanya melestarikan kesenian tradisional Debus, namun juga kesenian tradisional Pencak Silat yang saat ini dipimpin dan dilatih oleh Elang Kusuma Negara dan Mul yang juga merupakn cucu dari pendiri padepokan Surosowan. Anggota kesenian tradisional Pencak Silat itu sendiri adalah anak-anak sekitar daerah setempat yang ingin memperdalamai dan melestarikan kesenian tradisional daerah tersebut. Salah satu anggotanya adalah seorang anak laki-laki berusia 10 tahun bernama Wahyu yang saat ini sedang menempuh pendidikan di bangku kelas 4 sekolah dasar yang berada tidak jauh dari desa Walantaka. Anak laki-laki ini sungguh sangat ramah dan sedikit pemalu, namun setelah mengenalnya ternayata anak ini adalah anak yang pintar dan mudah beradaptasi. Menurut cerita yang ia tuturkan bahwa ia adalah seorang anak yatim piatu yang sejak ia kecil sudah ditinggal oleh kedua orangtuanya dan saat ini tinggal bersama orangtua angkatnya yang juga penduduk desa setempat. Anak ini terkesan begitu mandiri dan kuat dalam menghadapi cobaan hidup. Silat yang ia jalani saat ini adalah salah satu media untuk dapat berkembang menjadi pribadi yang unggul. Sungguh mulia sekali cita-cita anak ini, ia ingin sekali jika sudah dewasa nanti menjadi seorang pemain Debus agar bisa melestarikannya hingga sampai kapanpun. Anak ini sudah sangat dekat sekali dengan kami, selama kami berada di desa Walantaka ia sering bermain dan bercanda bersama kami, ia bersama teman-temannya sering mengajak kami untuk sekadar bermain, bercanda serta melihat latihan pencak silat yang rutin ia bersama teman-temannya lakukan seminggu 3x di malam hari. Disaat kami hendak kembali menuju Depok raut kesedihan tertampak di mukanya, ketika kami melambaikan tangan berpamitan dengan Wahyu dan teman-temannya ia menangis, menitikkan airmata kesedihan yang menggambarkan bahwa ia senang bisa berkenalan dengan kami dan tidak ingin kami pergi dari desa tersebut karena ia sudah merasa  nyaman dan akrab bersama kami. Sungguh fenomena yang sangat luar biasa, seorang anak laki-laki yatim piatu yang kuat dan mandiri namun merasa sedih dan bahkan menangis saat ia merasa sudah menemukan orang-orang yang membuat dirinya nyaman tetapi pergi meninggalkannya. Ia berkata bahwa kapan-kapan kami disuruh datang bersinggah kembali ke desa tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.
Banyak sekali pengalaman-pengalaman, informasi-informasi serta ilmu-ilmu baru yang bisa saya dapatkan dari KKL kali ini yang sangat panjang sekali bila harus saya ceritakan melalui tulisan ini, terimakasih juga buat semua teman-teman Islamologi yang sudah membantu mensukseskan KKL ini hingga berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan. Terimakasih atas ketawa-ketawa gila, ejek-ejekan serta cerita-cerita yang seru dari kalian semua. Kalian semua gokil, asik dan tak tertandingi. Semoga KKL kita kali ini memberikan informasi yang baru dan sangat berguna bagi kita.
Dengan menyaksikan sendiri kesenian Debus dan Pencak Silat yang ada di Padepokan Surosowan, saya merasa bangga sekali dengan warisan budaya Indonesia yang begitu indah, begitu kaya dan begitu mempesona. Terimaksih untuk semuanya, terimakasih untuk penduduk-penduduk desa Walanta yang ramah, penjual nasi uduk stasiun Walantaka, penjual makanan di semua Warung dan toko di Walantaka, penjual pecel dan nasi uduk Walantaka yang berikutnya dan semua anak-anak Pencak Silat Surosowan yang telah membuat saya dan teman-teman saya merasa nyaman selama berada disana. Yang pasti semua ini tidak akan pernah saya lupakan. Terimakasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar