Taraaaaaaa, Islamologi
sebuah mata kuliah pilihan yang sudah membuat saya menemukan teman-teman baru
yang asik, seru, gila dan penuh tawa. Mata kuliah yang mewajibkan
mahasiswa-mahasiwinya melakukan Kuliah Kerja Lapangan sebagai bentuk Ujian
Akhir semester ini telah memberikan kisah tersendiri dalam salah satu ruang memori
hidup ini. Alkisah mahasiwa dari bererapa jurusan yang ada di Fakultas Ilmu
Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (yang menikuti mata kuliah Islamologi)
membentuk sebuah susunan kepanitiaan yang telah ditetapkan saya sebagai ketua
Kuliah Kerja Lapangan kali ini. Setelah melalui minggu-minggu yang pelik,
akhirnya telah diputuskan bahwa kami akan meneliti tentang Debus yang berada di
propinsi Banten dengan berbagai pertimbangan yang telah disepakati bersama. Tiga
kali survey lokasi telah saya bersama beberapa teman saya lakukan yang memiliki
cerita berbeda-beda di setiap survey tersebut. Hingga akhirnya kami putuskan
untuk menjadkan desa Walantaka sebagai wilayah penelitian Kuliah Kerja Lapangan
Islamologi ini. Dalam proses perwujudan KKL (Kuliah Kerja Lapangan) yang
dilakukan pada hari Jumat, 24 Mei 2013 hingga MInggu, 26 Mei 2013 ini memanglah
tidak berjalan dengan mulus, berbagai masalah datang bertubi-tubi, namun dengan
perasaan yang agak sedikit bernafas lega dan penasaran akhirnya kami ber-15
yang sebenarnya mahasiswa mata kuliah Islamologi adalah 16 orang (satu orang
mengundurkan diri dengan alasan yang hingga saat ini masih belum saya ketahui
dengan pasti) pergi menuju desa Walantaka pada hari Jumat sore sekitar pukul 4
sore yang mengaret hampir satu jam dari perjanjan sebelumnya. Walhasil perjalanan
dari Depok menuju desa Walantaka menjadi 4 jam (yang pada saat survey hanya
menghabiskan waktu 2 jam) karena macet. Kami berangkat mengenakan 2 buah mobil
yang terdiri dari 8 orang di mobil pertama dan 7 orang di mobil kedua. Dalam perjalanan
menuju desa Walantaka, kehangatan serta kebersamaan (yang tidak saya temui di
dalam kelas, karena memang kami tidak mengenal satu sama lain yang berasal dari
berbeda-beda program studi) mulai tercipta di dalam setap mobil, bercanda
tertawa dan saling mengejek guna mengakakrabkan suasana mulai terdengar
memenuhi isi mobil yang saya tumpangi, setelah saya bertanya kepada salah satu
penumpang di mobil yang satunya pun ternyata sama, wajah jaim dan malu-malu
sudah tidak ada lagi diantara kami. Sesampainya disana kami memang sudah merasa
sangat kelaparan, hingga akhirnya tim konsumsi bersama saya mencari makanan di
sekitar lokasi penginapan yang juga berada di desa Walantaka serta memebeli
berbagai keperluan konsumsi yang akan dipergunakan untuk keesokan harinya. Kamipun
makan bersama di tempat penginapan untuk pertama kalinya dan tetap dselingi
canda tawa yang lepas diantara satu dan yang lainnya. Hingga selesai makan
malampun, kami masih terus bercengkrama hingga larut malam meskipun sudah ada
yang tertidur terlebih dahulu karena sangat merasa capek. Namun sebelum itu semua kami sudah
merencanakan kegiatan yang harus kami lakukan bersama kelompok-kelompok yang
dibagi menjadi 5 untuk menemukan informasi-informasi baru mengenai Debus yang
ada di desa Walantaka.
Walantaka, sebuah desa
kecil yang terletak di Kabupaten Serang propinsi Banten adalah tempat lahirnya
kesenian tradisional Banten yang sudah sangat mendunia yaitu Debus. Desa
Walantaka memiliki sejuta keunikan dan keindahan. Penduduk setempat yang sangat
ramah dengan pendatang adalah salah satu hal yang sangat istimewa, anak-anak
yang memiliki segudang prestasi dalam hal kesenian juga menambahkan
keistimewaan bagi desa Walantaka. Padepokan Surosowan adalah padepokan debus
tertua di Banten. Dari padepokan inilah lahir jawara-jawara Banten yang
terkenal. Sebut saja salah satunya adalah almarhum bapak Idris yang merupakan
pendiri padepokan tersebut. Setelah sepeninggalannya almarhun bapak Idris,
padepokan ini diurus oleh anak-anaknya yang berjumlah 9 orang. Padepokan ini adalah
padepokan yang berbasaskan kekeluargaan, jadi tidak ada struktur keorganisasian
yang pasti pada padepokan ini, namun yang menjadi ketua harian padepokan saat
ini adalah bapak Suminta yang merupakan salah satu anak laki-laki pendiri
padepokan tersebut. Selain bapak Suminta ada lagi tokoh terkenal yang juga
merupakan anak-anak dari pendiri padepokan Surosowan adalah bapak H. Muchtar
Idris dan ibu Bayi Khodijah. Padepokan Surosowan ini tidak diketahui dengan
pasti kapan didirikannya, saat kami mencoba menanyakan sejak kapan berdirinya padepokan
ini, pak H Muchtar Idris mengatakan bahwa pohon beringin besar yang berdiri
kokoh di depan pelatarn padepokan Surosowan ini sudah ada sebelum padepokan
tersebut didirikan, itu berarti usia padepokan tersebut berkisar 100 tahunan
lebih. Padepokan Surosowan tidak hanya melestarikan kesenian tradisional Debus,
namun juga kesenian tradisional Pencak Silat yang saat ini dipimpin dan dilatih
oleh Elang Kusuma Negara dan Mul yang juga merupakn cucu dari pendiri padepokan
Surosowan. Anggota kesenian tradisional Pencak Silat itu sendiri adalah
anak-anak sekitar daerah setempat yang ingin memperdalamai dan melestarikan
kesenian tradisional daerah tersebut. Salah satu anggotanya adalah seorang anak
laki-laki berusia 10 tahun bernama Wahyu yang saat ini sedang menempuh
pendidikan di bangku kelas 4 sekolah dasar yang berada tidak jauh dari desa
Walantaka. Anak laki-laki ini sungguh sangat ramah dan sedikit pemalu, namun
setelah mengenalnya ternayata anak ini adalah anak yang pintar dan mudah
beradaptasi. Menurut cerita yang ia tuturkan bahwa ia adalah seorang anak yatim
piatu yang sejak ia kecil sudah ditinggal oleh kedua orangtuanya dan saat ini
tinggal bersama orangtua angkatnya yang juga penduduk desa setempat. Anak ini
terkesan begitu mandiri dan kuat dalam menghadapi cobaan hidup. Silat yang ia
jalani saat ini adalah salah satu media untuk dapat berkembang menjadi pribadi
yang unggul. Sungguh mulia sekali cita-cita anak ini, ia ingin sekali jika
sudah dewasa nanti menjadi seorang pemain Debus agar bisa melestarikannya
hingga sampai kapanpun. Anak ini sudah sangat dekat sekali dengan kami, selama
kami berada di desa Walantaka ia sering bermain dan bercanda bersama kami, ia
bersama teman-temannya sering mengajak kami untuk sekadar bermain, bercanda
serta melihat latihan pencak silat yang rutin ia bersama teman-temannya lakukan
seminggu 3x di malam hari. Disaat kami hendak kembali menuju Depok raut
kesedihan tertampak di mukanya, ketika kami melambaikan tangan berpamitan
dengan Wahyu dan teman-temannya ia menangis, menitikkan airmata kesedihan yang
menggambarkan bahwa ia senang bisa berkenalan dengan kami dan tidak ingin kami
pergi dari desa tersebut karena ia sudah merasa
nyaman dan akrab bersama kami. Sungguh fenomena yang sangat luar biasa,
seorang anak laki-laki yatim piatu yang kuat dan mandiri namun merasa sedih dan
bahkan menangis saat ia merasa sudah menemukan orang-orang yang membuat dirinya
nyaman tetapi pergi meninggalkannya. Ia berkata bahwa kapan-kapan kami disuruh
datang bersinggah kembali ke desa tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.
Banyak sekali
pengalaman-pengalaman, informasi-informasi serta ilmu-ilmu baru yang bisa saya dapatkan
dari KKL kali ini yang sangat panjang sekali bila harus saya ceritakan melalui
tulisan ini, terimakasih juga buat semua teman-teman Islamologi yang sudah
membantu mensukseskan KKL ini hingga berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan.
Terimakasih atas ketawa-ketawa gila, ejek-ejekan serta cerita-cerita yang seru
dari kalian semua. Kalian semua gokil, asik dan tak tertandingi. Semoga KKL
kita kali ini memberikan informasi yang baru dan sangat berguna bagi kita.
Dengan menyaksikan
sendiri kesenian Debus dan Pencak Silat yang ada di Padepokan Surosowan, saya
merasa bangga sekali dengan warisan budaya Indonesia yang begitu indah, begitu
kaya dan begitu mempesona. Terimaksih untuk semuanya, terimakasih untuk
penduduk-penduduk desa Walanta yang ramah, penjual nasi uduk stasiun Walantaka,
penjual makanan di semua Warung dan toko di Walantaka, penjual pecel dan nasi
uduk Walantaka yang berikutnya dan semua anak-anak Pencak Silat Surosowan yang
telah membuat saya dan teman-teman saya merasa nyaman selama berada disana. Yang
pasti semua ini tidak akan pernah saya lupakan. Terimakasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar