Sabtu, 27 Oktober 2012

Sebuah kisah untuk Andri

kemarin (Jumat malam) rencananya Saya dan Dona ingin bersilaturrahmi ke rumah sahabat kami, Andri. Sebenarnya Arischa juga mau ikut, namun ia sedang ber-Idul Adha di kampungnya di Tulang Bawang.
saya mengendarai kuda putih kecil dari Gotong Royong menuju Way Halim, pertama-tama saya ke rumahnya Dona supaya bisa beragkat bersamaan ke rumah Andri, dan setelah sampai rumah Andri, kami disambut baik oleh Ayahnya atau yang biasa kami sebut dengan Om Darlen, namun ia hanya mengatakan Andri nya sedang tidak enak badan, lalu kami di persilahkan masuk dan menuju kamar Andri, namun sayang, rupanya ia sudah tertidur lelap karena ia memang sedang sakit demam (katanya). Walhasil kami akhirnya berbincang-bincang sedikit sambil berdiri (meskipun sudah ditawari duduk dan makanan) dengan Ibu dan Ayah Andri, sedikit cerita dari mereka membuat rasa ini jadi sedih, rupanya Andri menggigil sejak hari sebelumnya, saat ia ingin menambah darah di dalam tubuhnya, namun karena tiba-tiba ia menggigil, akhirnya proses penambahan darah rutinnya dibatalkan, sejenank terbesit tubuh Andri yang mulai mengurus yang kulihat saat membuka pintu kamarnya. Ibu Enung (Ibu Andri) kemudian bercerita lagi tentang kondisi Andri yang semakin memprihatinkan, Anak bungsunya dan tinggal satu-satu nya tersebut ingin limfa nya dioperasi, namun kekhawatiran muncul dari sang orang tua, karena menurut pengalaman, para penderita Thalasemia setelah dioperasi akan "gagal" begitu ucap Ibu Enung sambil ku lihat isak tangis mulai terpancar di raut mukanya yang tidak lagi dapat dikatakan muda. Namun dengan sigap saya mulai mencoba untuk mencari obroan lain, meskipun masih seputar Andri.
Akhirnya karena kami merasa kehadiran kami sedikit mengganggu, kami pamit.
Dan keesokan harinya, Andri mengirimkan pesan singkat melalui Blackberry Messenger yang intinya meminta maaf dan merasa ketidakenakan kalau kami semalam sudah ke rumah nya namun ida tidak bisa menemani kami.
Sore hari saya Arischa dan Dona kembali berkumpul, namun sebelumnya saya dan Dona sedikit memberikan surprise kepada Arischa yang berulang tahun tanggal 23 Oktober kemarin, sebuah kue kecil dengan hiasan lilin yang menyala kami berikan untuk ucapan selamat ulang tahun, dan setelah itu kami makan malam bersama ditraktir Arischa di sebuah tempat makan Steak di kawasan Kedaton, Bandar Lampung, niatnya memang sambil menunggu Andri yang sedang berada di Metro, karena ia berjanji akan bermain bersama kami. namun memang situasi berkata lain, ia masih berada di Metro karena urusan keluarganya belum selesai, akhirnya kami pergi ke Chandra Supermarket, tepatnya ke kedai donat untuk membelikan Andri donat, dan kami bungkus sebelum sesaat pulang dan menaruh bingkisan donat tersebut di gantung pada gagang pintu depan rumah Andri kami sempat berfoto-foto untuk mengabadikan momen ini. Dan setelah itu kami pulang masing-masing, namun saya harus mengembalikan Arischa ke rumahnya dulu.

Andri, bagi kami kau bukanlah orang sakit, namun bagi kami kau adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan untuk kami.
tetap semangat menjalani hidup, tetap tersenyum dan luapkan selalu keceriaanmu kepada kami. Karena kami semua adalah sahabtmu, sahabat yang akan ada disaat kamu senang dan sedih.
kamu boleh saja tidak mengingat kami di saat kamu senang, namun jikalau kau sedang dalam kesedihan ataupun kesusahan, ingatlah kami. dan kami akan datang untukmu, meskipun raga ini tidak bisa datang karena jarak, tapi jjiwa kami akan selalu ada disampingmu.
We Love You Andri :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar