apasih sebenarnya maksud dari judul pada post kali ini?
yap, untuk pertama kalinya kemarin saya berhubungan dengan yang namanya dokter gigi. Berhubungan??
eiitssss, jangan ngeres dulu, kata berhubungan disini maksudnya yaitu pertama kalinya saya pergi ke dokter gighi untuk nambal gigi.
kenapa emangnya dengan gigi saya?
dari kalimat sebelumnya sudah dijelaskan bahwa nambal gigi, berarti gigi saya bolong, kenapa bisa bolong? entahah, perasaan saya sudah rajin menyikat gigi, dan bukannya sombong ya, gigi saya itu putih, bersih dan tertata rapi, #eaaaaaa
tapi kenapa bisa? entahlah sampai saat ini pun saya tidak mengetahui apa penyebabnya,
sumpah rasanya itu sakiiiit banget kalo minum yang dingin-dingin, serta selama dua hari berturut-turut dan dalam termin yang sama, yaitu pada sore hari gigi saya terasa nyut-nyut bangeeeeeeeeet, itu pas gigi saya masih bolong, tapi setelah ke PKM (Pusat Kesehatan Mahasiswa) di kampus, UI semuaya terkendali, yakin terkendali?
enggak juga si, intinya ada dua opsi yang ditawarkan oleh dokter gigi tersebut,
1. mempertahankan gigi saya, dan ditambal non-permanen, dengan syarat dilakukan foto rontgen, serta harus melakukan konsultais rutin dengan dokter gigi hingga 3 atau 4 kali, dan akan dilakukan perawatan syaraf gigi di UI Salemba, Jakarta Pusat. For your information, biaya foto rontgennya Rp 20.000
2. gigi tersebut dicabut, melalui "bedah minor" (operasi kecil, begitu kata Drg. Chandra) di Salemba, dengan biaya yang cukup mahal (yaitu Rp 500.000, setelah saya bertanya kisaran harganya kepada sang dokter).
sampe saat ini, karena saya merasa sakitnya sudah sembuh, jadi saya memutuskan opsi yang pertama, namun jika suatu saat nanti sakit lagi, terpaksa harus ambil opsi yang ke-dua, hehehehhe.
oh iya, sebelum saya mengantri untuk diperiksa dokter gigi, saya sempat berdebat dulu dengan bagian pendaftaran PKM, biasa ibu-ibu yang ada di loket pendaftaran emang selalu terlihat sinis dan galak (itu pendapat saya setelah saya beberapa kali berobat ke Poli Umum di PKM, mungkin mahasiswa/i lain yang sudah pernah ke PKM juga akan berpendapat yang sama dengan pendapat saya, mungkin lhoooo).
Masalahnya yaitu karena kartu PKM saya (yang sudah diganti dengan ibu itu, tidak ada fotonya). saya ngotot dong, dan berkata "bu, saya sakitnya sekarang, masa harus besok kesini lagi? (karena saya lihat jam sudah pukul 14.10, dan PKM menutup pendaftaran pada pukul 14.30. ibu itu tetap ngotot dengan sinisnya "ii sudah peraturan", sebebnarnya saya terima sih alasanya, tapi yang bikin saya tidak suka yaitu cara penyampaianya itu looooh yang jutek banget, bahkan dia malah membuang muka untuk berbicara saja. (gile banget kaaaan, gimana gak emosi tuh gue)
okelah saya tidak akan membahas terlalu banyak soal orang itu, biarlah orang itu tetap senang dengan kesibukannya sendiri, semoga saja dia cepat diberi kesadaran oleh Tuhan, bagaimana cara pelayanan yang baik.
yaaah begitulah pengalaman pertama saya berhubungan dengan dokter gigi, lantas apakah kesan pertama berhubungan dengan dokter gigi? kalo dari segi dokternya sih syukur dapet dokter yang baik dan sabar, jadi membuat kesan pertama dokter gigi dalam pikiran saya yaitu baik dan ramah, namuuuuun, alat-alat prakteknya itu looooh yang super duper mengerikan (pertama melihatnya), namun setelah digunakan dan diuji cobakan ke gigi saya, itu berasa biasa saja, hanya ada rasa sakit sedikit-sedikit, hehehhehe.
oke, sampai disini dulu cerita kali ini,
nantikan cerita selanjutnya :)
thanks
dankje
danke
syukron
arigatou
Tidak ada komentar:
Posting Komentar